Perbaungan Nominasi 6 Kecamatan Terbaik


Perbaungan, (Analisa). Tim Penilai Kecamatan Terbaik tingkat Provinsi Sumatera Utara tahun 2011 kembali mengunjungi sekaligus menilai Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) untuk ditetapkan menjadi kecamatan terbaik tingkat Sumatera Utara tahun 2011.


Kunjungan tim penilai yang diketuai Karo Otonomi Daerah dan Kerjasama Setdaprovsu Sarlandy Hutabarat SH bersama anggota tim lainnya yaitu Karo Pemerintahan Umum Setdaprovsu H Nouval Mahyar SH, Kabid Pengembangan dan Pengendalian Dispenda Provsu Anthony Sinaga, Kepala Bidang Pengendalian, Evaluasi Statistik Bappeda Provsu Marihot Sormin, Kabid Pemerintahan Desa/Kelurahan Bappemas Jafar Situmorang, Kabag Perangkat Wilayah Biro Pemerintahan Umum Setdaprovsu Aswin Lubis dan Kasubbag Tata Wilayah Biro Pemerintahan Umum, Dra Diah Ananda tersebut disambut Bupati Sergai HT Erry Nuradi di pendopo kantor Camat Perbaungan, Selasa (29/11)


Bupati Sergai Erry Nuradi mengucapkan terimakasih kepada Pemprovsu yang telah menetapkan Kecamatan Perbaungan sebagai finalis enam besar kecamatan terbaik tingkat Sumatera Utara pada tahun 2011 dari 421 kecamatan se-Sumut meliputi bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.


Dalam penilaian kecamatan terbaik ini adalah merupakan alat evaluasi pemerintah terhadap kinerja kecamatan sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah RI nomor 19 tahun 2008 yang mencakup penyelenggaraan sebagian wewenang Bupati/Walikota yang dilimpahkan untuk melaksanakan sebagian urusan otonomi daerah, penyelengaraan tugas umum pemerintahan dan penyelenggaraan tugas lainnya yang ditugaskan kepada camat, kata bupati.


Sedangkan Camat Perbaungan Drs Akmal dalam paparannya dihadapan tim penilai mengemukakan, tingkat partisipasi masyarakat di kecamatan ini dalam pelaksanaan pembangunan sangat tinggi, yaitu melalui Gerakan Pembangunan Swadaya Rakyat (Gerbang Swara) dimana sampai Oktober 2011 bantuan material, hibah maupun tenaga yang diberikan masyarakat untuk pembangunan Kecamatan Perbaungan sebesar Rp 2.930.821.400 dan jumlah ini melebihi dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM) dan Alokasi Dana Desa (ADD).


Menurut Akmal koordinasi antar jajaran muspika, aparat pemerintahan desa/kelurahan dan dusun/lingkungan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat di kecamatan yang terdiri dari 24 desa dan 4 kelurahan ini telah berlangsung baik dan harmonis ditandai dengan setiap bulannya dilaksanakan rapat koordinasi di desa-desa secara berkala dan bergilir.


Selanjutnya kesadaran masyarakat di wilayah yang jumlah penduduknya sebanyak 110.536 jiwa ini dalam membayar pajak juga cukup tinggi dan hal ini ditandai dengan pencapaian target PBB tahun 2010 yang mencapai 93,34 persen sebesar Rp987.833.941.


Kecamatan yang telah memiliki satu produk unggulan (one village one product) seperti dodol dan keripik telah melakukan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN) dengan melaksanakan Standar Operasional Pelayanan (SOP) dalam pelayanan administrasi desa serta pelaksanaan e-KTP yang merupakan program pemerintah pusat, jelas Akmal.


Di akhir penilaian Ketua Tim Sarlandy Hutabarat SH mengemukakan enam besar finalis kecamatan terbaik di Sumatera Utara pada tahun 2011 yaitu Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai, Kecamatan Medan Barat Kota Medan,Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang,Kecamatan Rantau Prapat Selatan Kabupaten Labuhan Batu, Kecamatan Kisaran Timur Kabupaten Asahan dan Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat. 


Kemudian dikatakannya pula bahwa penilaian ini bukanlah penilaian camat teladan tetapi penilaian terhadap keteladanan camat dalam memimpin wilayahnya dengan melaksanakan tugas di bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.


Disela-sela acara penilaian ini diadakan demo oleh anak-anak PAUD Kecamatan Perbaungan perihal perilaku hidup bersih dan sehat dengan mencuci tangan pakai sabun. (bah)


Sumber: 
Harian Analisa,  Senin, 05 Des 2011
http://www.analisadaily.com/news/read/2011/12/05/24555/perbaungan_nominasi_6kecamatan_terbaik/#.TzPWsVzzup0
Diakses 9 Februari 2012
»»  READMORE...

Perbaungan: Geografis dan Kependudukan

Kecamatan Perbaungan terletak di kabupaten Sergai berada pada dataran rendah dengan luas wilayah 206,02 km2 terdiri dari:
• Desa : 36
• Kelurahan : 5
• Dusun : 184
• RW         : 269
• RT         : 620
dengan batas-batas sebagai berikut:
• sebelah utara     : kecamatan Pantai Cermin
• sebelah timur     : kecamatan Teluk Mengkudu/Sei Rampah
• sebelah selatan : kecamatan Sei Rampah
• sebelah barat     : kabupaten Deli Serdang

Desa/Kelurahan


DESA/KELURAHAN
LUAS WILAYAH (KM2) MENURUT DATA SEKUNDER L
UAS WILAYAH (KM2) MENURUT DATA PRIMER
Melati I 1,170 0,781
Simpang Tiga Pekan 1,780 1,474
Batang Terap 1,970 3,975
Tualang 5,040 6,296
Adolina 16,740 19,983
Bengkel 1,370 1,719
Cinta Air 3,520 3,014
Cintaman Jernih 1,620 1,329
Deli Muda Hulu 3,770 7,496
Deli Muda Hilir 4,630 4,051
Jambur Pulau 2,470 2,073
Kesatuan 3,320 2,970
Kota Galuh 3,000 3,301
Lidah Tanah 4,600 5,126
Lubuk Bayas 4,810 3,721
Lubuk Cemara 2,500 3,129
Lubuk Dendang 1,760 1,888
Lubuk Rotan 3,640 2,645
Melati II 11,800 9,472
Pematang Sijonam 4,710 5,703
Pematang Tatal 1,890 2,310
Suka Beras 3,260 2,202
Suka Jadi 1,950 2,267
Sei Buluh 1,230 0,980
Sungai Naga Lawan 5,580 8,161
Serijenggi 2,710 2,732
Tanah Merah 3,390 2,747
Tanjung Buluh 7,390 3,324
JUMLAH 111,620 113,868

Jumlah Penduduk
Laki-laki 49790
Perempuan 49732

Sumber: Hasil Sensus Penduduk 2010, Kabupaten Serdang Bedagai, Data Agregat per Kecamatan. Badan Pusat Statistik Kabupaten Serdang Bedagai (http://sp2010.bps.go.id/files/ebook/1218.pdf), Diakses 9 Februari 2012.

Peta

Sumber: Website Pemerintahan Serdang Bedagai. http://www.serdangbedagaikab.go.id/map/images/perbaungan3.jpg. Diakses 9 Februari 2012.
»»  READMORE...

Mahakarya Dari Perbaungan Bernama Serampang XII



BILA membicarakan kesenian tradisionil Melayu, khususnya seni tari, tentulah nama Perbaungan tak bisa diabaikan begitu saja. Kota yang kini berada di wilayah Kabupaten Serdang Bedagai di Sumatera Utara ini bukan saja pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Serdang di masa lalu, tapi kota ini adalah kota kelahiran seniman tari tradisonil Melayu ternama Guru Sauti. Di kota inilah mahakarya tari yang terkenal bernama Serampang XII tercipta dan berkembang.



Video Tari Serampang XII

Sebenarnya Kota Perbaungan bukan saja pernah melahirkan seorang bernama Sauti dan Serampang XII, tapi masih ada lagi seni tradisi yang lahir dan berkembang dari kota ini misalnya Drama Tradisionil Makyong, Drama Bangsawan, Tarian Zapin dan juga Pencak Silat Lintau. Namun karena tulisan ini fokus pada tari Serampang Dua Belas maka hal yang lain tersebut tidak diketengahkan.



Memang begitulah kenyataannya. Beberapa seniman dan pengamat kebudayaan yang sempat penulis wawancarai untuk melengkapi tulisan ini mengatakan, bila membicarakan seni tradisionil Melayu, seni tarinya merupakan hal yang “populer”. Dalam kaitan itu Serampang XII tak bisa diabaikan.

“Bila sudah menyangkut ‘Serampang XII’ tentu saja ada Sauti dan Perbaungan di situ,” ujar Zubaidi (70) pada penulis akhir April 2011 lalu. Artinya, Serampang XII pernah berjaya. Ciptaan anak Perbaungan ini pernah melanglang ke negara Asean hingga ke Jepang bahkan ke beberapa negara Eropa . Dalam setiap pagelarannnya nama Sauti dan kota kelahirannnya ikut populer.

“ Masa keemasannya,banyak seniman dari banyak kota dan negera datang ke Perbaungan untuk belajar tari itu,” kenang Zubaidi.

Awal Perkembangan

Zubaidi adalah seniman tari Melayu yang tinggal di Perbaungan. Lelaki yang mulai tampak renta ini adalah murid pertama Guru Sauti yang menerima pelajaran tari Serampang XII yang fenomenal itu.Walau ia tak pernah tampil ber-serampangduabelas ke manca negara, tapi ia cukup bangga karena sebagai murid pertama yang menerima ajaran tari itu dari Sauti, bersama Jose Rizal Firdaus, seorang seniman tari terkemuka di Sumatera utara, pernah tampil di banyak pagelaran di Indonesia.

Dari keterangan Zubaidi dan beberapa sumber yang penulis perolehSerampang XII adalah tarian tradisional Melayu yang berkembang di masaKesultanan Serdang. Tarian ini menurut Zubaidi merpakan inspirasi dari irama “Tari Lagu Dua” yang
digandakan tempo atau kecepatannya (2/4).

Dengan kecepatan tempo tentu tidak pernah diiringi dengan nyanyian . Tarian ini mengutamakan gerakan yang lincah. Gerak kaki yang banyak melompat-lompat, gerak cepat tangan serta lirikan mata.
Serampang XII dipersembahkan pada khalayak ramai, atau pada pertunjukan akbar pada 9 April 1938 di Grand Hotel Medan.

Pada pertunjukan perdana ini Guru Sauti sendiri yang menampilkannya bersama OK Adram dengan pasangan penari perempuan masing-masing. Sejak penampilan inilah tari ini
menjadi perhatian dan perbincangan khalayak, khususnya para seniman tari Melayu kala itu.

Kemudian tarian ini ditampilkan kembali di tahun 1941 dalam rangka malam dana dan amal dari masyrakat yang dikoordinir oleh “Commite Bandjiir Serdang”, sehubungan di kala itu wilayah Serdang dilanda banjir. (lihat buku Karya Tuanku Luckman Sinar’ Kebudayaan Melayu Sumatera Timur’).

November 1952 oleh yayasan “Budaya Medan “ pimpinan Schoolpziener Abdul Wahab” (masa itu menjadi Kepla JawatanKebudayaan Sumatera Utara), dimana Sauti bersama kawan-kawannya diberi kesempatan untuk tampil kembali membawakan Serampang XII (lihat buku Karya Tuanku Luckman Sinar’ Kebudayaan Melayu Sumatera Timur’).

Setelah tampil di tiga hajatan tersebut Serampang XII menjadi populer di wilayah pantai pesisir timur Sumatera. Kemudian secara perlahan berkembang ke berbagai wilayah kota provinsi yang ada di Sumatera, termasuk Aceh. Hingga akhirnya tarian ini populer juga di kawasan negara Asean.

Di era1940-an hingga era1960-an Serampang XII memetik masa keemasannya. Kota Perbaungan dan Sauti sendiri banyak didatangi para seniman dan akademisi kebudayaan dari Asean untuk menggali lebih dalam soal tarian ini.

Asal usul

Dari pengakuan Zubaidi, beberapa pemerhati seni budaya Melayu dan buku “Kebudayaan Melayu Sumatera timur” terungkap bahwa asal usultarian ini bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari.Karena tari ini tidak beraturan maka datanglah pemikiran dari Sauti untuk menciptakan tarian dengan dua belas ragam tari yang kemudian disebutnya
Serampang XII.

Dari beberpa kali pertemuan yang pernah penulis lakukan (semasa penulis menjadi Redaktur Budaya Harian Waspada- Thn 2000 s/d 2008) dengan seniman tari Melayu Tengku Mira Sinar, dapatlah terangkum sperti ini : Semelua berawal dari Tari Pulau SariKemudian diganti Serampang XII karenanamapulau Sari dirasa kurang tepat oleh Sauti. Di samping tarian ini bertempo cepat (quick step).

Semuatarian yang diawali kata “pulau” biasanya bertempo rumba, seperti Tari Pulau Kampai dan Tari Pulau Putri. Sedangkan Tari Serampang XIImemiliki gerakan bertempo cepat seperti Tari Serampang Laut. Berdasarkan hal tersebut, Tari Pulau Sari lebih tepat disebut Tari Serampang XII. Makna “dua belas”sendiri berarti tarian dengan gerakan tercepat di antara lagu yang bernama serampang.

Tari Serampang XIImerujuk pada ragam gerak tarinya yang berjumlah 12, yaitu: 1- Ragam tari permulaan/pertemuan pertama, 2- Ragam tari cinta meresap, 3-Ragam tari memendam cinta,4- Ragam tari menggila mabuk kepayang,5- Ragam tari isyarat tanda cinta,6- Ragam tari balasan isyarat,7- Ragam tarimenduga,8- Ragam tari keraguan,9- Rgam tari jawaban,10- Ragam tari pinang-meminang,11- agam tari mengantar pengantin, 12- Ragam taripertemuan kasih.

Menurut Tengku Mira Sinar, tarian ini merupakan kolaborasigerak antara tarian Portugis dan Melayu Serdang. Pengaruh Portugis tersebut dapat dilihat pada keindahan gerak tarinya dan kedinamisan irama musik pengiringnya.

Soal pengaruh Portugis ini banyak pemerhati seni budaya Melayu sepakat dengan Mira Sinar. Seni Budaya Portugis memang mempengaruhi bangsa Melayusejak bangsa Eropa ini menjajah ke wilayah pesisir pantai timur. “Campuran” initerlihat dari gerak tari tradisionilnya (Folklore) dan irama musik tari yang dinamis, dan itu tersimak dengan nyata dapat dari tarian Serampang XII.

Dalam sebuah kesempatan berbincang dengan Seniman Tari senior Sumatera Utara Jose Rizal Firdaus, terjelaskan juga bahwa Tari Serampang DuaBelas memang ada pengaruh budaya Portugis. Dan tari ini juga berkisah tentang cinta suci dua anak manusia yang muncul sejak pandangan pertama dan diakhiri dengan pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua sang dara dan teruna.

Pada awalnya tarian ini hanya dilakukan sepasang lelaki karena pada waktu itu dinilai tabu bila tarian ini dilakukan perempuan dengan melenggak-lengokan tubuhnya. Lalu pada perkembangannya kemudian perempuan diperbolehkan.

Diperbolehkannya perempuan memainkan Tari Serampang XIIternyata berpengaruh positif terhadap perkembangan tarian ini.

Tak Bertuan

Sejak tahun pertama tarian ini diciptakan hingga tahun 70-an perkembangan dan kualitasnya cukup membanggakan.Berbagai hajatan selalu saja ada tari ini ditampilkan. Ada dalam bentuk lomba di berbagai jenjang pendidikan sampai bermunculan banyak sanggar seni tari Melayu di banyak kota.

Sayangnya, ketika memasuki era 90-an denyut tarian ini memantik keprihatinan dan kegelisahan. Betapa tidak, bukan saja soal kuantitas dan kualitas, tapi ada hal yang teramat miris. Di kota Perbaungan, sebagian besar masyarakatnya tidak tahu siapa Guru Sauti. Banyak yang tahu secara utuh apa dan siapa di balik Serampang XII, bahkan tak tahu tarinya.

Di Perbaungan, di kota kelahiran Sauti tak ada lagi ditemui sanggar tari tradisionil Melayu yang tubuh secara serius. Kalau pun ada hanya dadakan.Itu pun teramat langka mencarinya. Dan penulis selalu mendapatkan para remaja yang kebetulan menari Serampang XII tak tahu sipa pencipta tari yang ia tarikan dan juga makna gerakan yang ditarikan.

Di tempat lahirnya tari ini seperti tak bertuan. Di Kabupaten Serdang Bedagai yang memiliki motto “Tanah Bertuah Negeri Beradat” Sauti dan Serampang XII-nya tak dipertuan: disayangi, dikenali dan dilestarikan. Tak ada sanggar tari Melayu yang dikelola secara profesional untuk anak dan remaja menggali Tari Persembahan dan Serampang XII. Sesekali ditampilkan di sela acara kebupatian tanpa jelas asal usul penari dan kelanjutan sanggar dan tarian itu.

“Saya capek dan letih. Memberi usulan dan menyampaikan pendapat pada Pemkab. Agar dibuka lembaga atau sanggar tari Melayu dan mendirikan museum Sauti. Karena lambat laun sejarah Sauti, Serampang XII akan hilang ditelan zaman,” keluh Zubaidi menyimak kepedulian pemerintah daerahnya terhadap kesenian khususnya kesenian Melayu itu sendiri.” Kota Perbaungan serta wilayah Serdang Bedagai ini masyarakat Melayunya mayoritas. Bupatinya juga orang Melayu, tapi kesenian Melayunya mati,” keluhnya lagi.

Keberadaan Tari yangpernah jayaitu memang menghadirkan banyakkemirisan. Di kota kelahirannya Perbaungan, di Kabupaten Serdang Bedagai, yang katanya beradat itu. tarian ini tak dilestarikan. Sauti sang penciptanya tak dikenal dan tak satu pun ada penghargaan yang diberikan padanya.

Pada sisi yang lain menurut Jose Rizal Firdaus,salah satu yang mengkhawatirkan dari keberadaan tari iniadalah pendangkalan dalam hal teknik menari. Hal ini disebabkan oleh orang-orang dari luar daerahSerdang Bedagai atau Deli Serdang yang memainkan tarian ini tidak didukung oleh penguasaan terhadap teknik yang benar.

Akibatnya, terjadi pergeseran teknik tari dari aslinya.
Kepedulian generasi muda kepada tari ini tak ada lagi. Tak adanyapersebaran tarian ini ke berbagai daerah ternyata semakin tidak diimbangi dengan meningkatnya kecintaan generasi muda terhadap tarian ini. Kondisi ini tidak saja dapat menyebabkan tarian ini hilang karena tidak ada penerusnya, tapi juga bisa hilang karena diklaim oleh bangsa lain
Jose melihat untuk menyelamatkan tari inipemerintah harus melakukan proteksi agar tarian ini tidak diklaim oleh pihak lain, yaitu dengan mematenkan hak ciptanya.

Langkah berikutnya mendekatkan Tari Serampang DuaBelas kepada anak-anak dan remaja. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjadikan tari inisebagai salah satu materi pengajaran muatan lokal.
Dengan cara ini, maka kita telah berusaha menanamkan kepada generasi muda rasa cinta, bangga, dan rasa memiliki terhadap Tari Serampang XII.

Menyelenggarakan perlombaanberkesinambungan dan memberi perhatian serius pada para pemenang tari merupakan kewajibann pemerintah daerah.Menyelenggarakan perlombaan tari artinya mencari orang yang mempunyai kemampuan terbaik dalam menari.

Pemerintah daerah, terutama daerah yang punya kaitan historis dengan tarian ini, harus mampu melahirkan strategi yang bijak:setiap orang secara halus “dipaksa” untuk mempelajari Tari Serampang XIIsecara baik dan benar. Jika cara ini berjalan, maka ada dua hal yang dicapai sekaligus, yaitu lestarinya Tari Serampang XIIpada satu sisi, dan terjaganya kualitas teknik tari inipada sisi yang lain.

Memberikan jaminan kesejahteraan hidup para pelestarinya. Perlu membuat terobosan agar para pelestari Serampang XII, dan juga para pelestari warisan budaya lainnya, dapat hidup layak.

Akhirnya, suka atau tidak dengan kondisi kekinian tarian ini , Serampang XII merupakan mahakarya yang pernah lahir dari seorang Sauti di Kota Perbaungan. Sejarah pernah memberinya ruang tentang sebuah kejayaan dan kebanggaan. Tinggal sekarang apakah kita ingin membenam masa lalunya atau melestarikan demi kebanggan anak cucuk kita. Bila tidak segera, jangan terkejut bila satu waktu ada negera lain yang mengklaim tarian ini adalah milik mereka!****


Oleh: Adi Mujabir
Sumber: http://www.medansatu.com/node/3931
»»  READMORE...

Foto-foto Perbaungan Tempo Doeloe

























Istana Kerajaan Serdang Perbaungan
http://melayuonline.com/ind/history/dig/434/istana-kota-galuh-perbaungan-kerajaan-serdang















Anak Belanda di pantai Perbaungan di tahun 1920-an
http://id.wikipedia.org/wiki/Perbaungan,_Serdang_Bedagai















Stasiun kereta api Perbaungan di tahun 1920-an
http://id.wikipedia.org/wiki/Perbaungan,_Serdang_Bedagai



»»  READMORE...

Sejarah Perbaungan - Kesultanan Serdang

Kesultanan Serdang berdiri tahun 1723 dan bergabung dengan Republik Indonesia tahun 1946. Kesultanan ini berpisah dariDeli setelah sengketa tahta kerajaan pada tahun 1720. Seperti kerajaan-kerajaan lain di pantai timur Sumatera, Serdang menjadi makmur karena dibukanya perkebunan tembakau, karet, dan kelapa sawit.
Serdang ditaklukkan tentara Hindia Belanda pada tahun 1865. Berdasarkan perjanjian yang ditandatangani tahun 1907, Serdang mengakui kedaulatan Belanda, dan tidak berhak melakukan hubungan luar negeri dengan negara lain. Dalam peristiwa revolusi sosial di Sumatra Timur tahun 1946, Sultan Serdang saat itu menyerahkan kekuasaannya pada aparat Republik.
Wilayah kekuasaan
Wilayah kekuasaan Kesultanan Serdang meliputi Batang Kuis, Padang, Bedagai, Percut, Senembah, Araskabu dan Ramunia. Kemudian wilayah Perbaungan juga masuk dalam Kesultanan Serdang karena adanya ikatan perkawinan.1
Sejarah
Pendirian kerajaan Deli
Menurut riwayat, seorang Laksamana dari Sultan Iskandar Muda Aceh bernama Sri Paduka Gocah Pahlawan, bergelar Laksamana Khoja Bintan, menikah dengan adik Raja Urung (negeri) Sunggal, sebuah daerah Batak Karo yang sudah masukMelayu (sudah masuk Islam). Kemudian, oleh 4 Raja-Raja Urung Batak Karo yang sudah Islam tersebut, Laksamana ini diangkat menjadi raja di Deli pada tahun 1630. Dengan peristiwa itu, Kerajaan Deli telah resmi berdiri, dan Laksamana menjadi Raja Deli pertama. Dalam proses penobatan Raja Deli tersebut, Raja Urung Sunggal bertugas selaku Ulon Janji, yaitu mengucapkan taat setia dari Orang-Orang Besar dan rakyat kepada raja. Kemudian, terbentuk pula Lembaga Datuk Berempat, dan Raja Urung Sunggal merupakan salah seorang anggota Lembaga Datuk Berempat tersebut.1
Kemelut di tubuh kerajaan Deli
Dalam perkembangannya, pada tahun 1723 terjadi kemelut ketika Tuanku Panglima Paderap, Raja Deli ke-3 mangkat. Kemelut ini terjadi karena putera tertua Raja yang seharusnya menggantikannya memiliki cacat di matanya, sehingga tidak bisa menjadi raja. Putera nomor 2, Tuanku Pasutan yang sangat berambisi menjadi raja kemudian mengambil alih tahta dan mengusir adiknya, Tuanku Umar bersama ibundanya Permaisuri Tuanku Puan Sampali ke wilayah Serdang.1
Menurut adat Melayu, sebenarnya Tuanku Umar yang seharusnya menggantikan ayahnya menjadi Raja Deli, karena ia putera garaha (permaisuri), sementara Tuanku Pasutan hanya dari selir. Tetapi, karena masih di bawah umur, Tuanku Umar akhirnya tersingkir dari Deli. Untuk menghindari agar tidak terjadi perang saudara, maka 2 Orang Besar Deli, yaitu Raja Urung Sunggal dan Raja Urung Senembal, bersama seorang Raja Urung Batak Timur di wilayah Serdang bagian hulu (Tanjong Merawa), dan seorang pembesar dari Aceh (Kejeruan Lumu), lalu merajakan Tuanku Umar sebagai Raja Serdang pertama tahun 1723. Sejak saat itu, berdiri Kerajaan Serdang sebagai pecahan dari Kerajaan Deli.1
Periode pemerintahan
Penggabungan dengan Perbaungan
Kerajaan Serdang berdiri lebih dari dua abad, dari 1723 hingga 1946. Selama periode itu, telah berkuasa 5 orang Sultan. Sultan Serdang I adalah Tuanku Umar, kemudian ia digantikan oleh Tuanku Sultan Ainan Johan Almashah (1767-1817). Tuanku Sultan Ainan Johan Almashah beristerikan Tuangku Sri Alam, puteri Raja Perbaungan. Di masa Sultan Ainan Johan ini, terjadi penyatuan Kerajaan Serdang dan Perbaungan. Ceritanya, sewaktu Raja Perbaungan meninggal dunia, tidak ada orang yang berhak menggantikannya, sebab ia tidak memiliki anak laki-laki. Oleh karena anak perempuan Raja Perbaungan menikah dengan Sultan Serdang, maka akhirnya, Kerajaan Perbaungan digabung dengan Serdang. Jadi, penggabungan ini berlangsung semata-mata karena adanya hubungan kekerabatan, bukan karena peperangan.1
Putera Ainan Johan Almashah yang tertua, Tuangku Zainal Abidin, diangkat menjadi Tengku Besar. Suatu ketika ia pergi berperang membantu mertuanya yang sedang terlibat perang saudara merebut tahta Langkat. Dalam peperangan membela mertuanya tersebut, ia terbunuh di Pungai (Langkat) dan digelar Marhom Mangkat di Pungai (1815). Untuk menggantikan putera mahkota (di Serdang disebut Tengku Besar) yang tewas, maka, adik putera mahkota, yaitu Tuanku Thaf Sinar Basyarshah kemudian diangkat sebagai penggantinya, dengan gelar yang sama: Tengku Besar.1
Sultan Thaf Sinar Basyar Syah
Ketika Sultan Johan Alamshah mangkat tahun 1817, adik Tuangku Zainal Abidin, yaitu Tuanku Sultan Thaf Sinar Basarsyah (memerintah 1817-1850) diangkat oleh Dewan Orang Besar menjadi raja menggantikan ayahnya. Ketika itu, sebenarnya Tuanku Zainal Abidin, Tengku Besar yang sudah tewas, memiliki putera, namun puteranya ini tidak berhak menjadi raja, sebab, ketika ayahnya meninggal dunia, statusnya masih sebagai Tengku Besar, bukan raja. Jadi, menurut adat Melayu Serdang, keturunan putera tertua tidak otomatis menjadi raja, karena sebab-sebab tertentu.1
Dikuasai Belanda dan bergabung dengan Indonesia
Demikianlah, pemerintahan baru berganti dan keadaan terus berubah. Pada tahun 1865, Serdang ditaklukkan oleh Belanda. Selanjutnya, pada tahun 1907, Serdang menandatangani perjanjian dengan Belanda yang melarang Serdang berhubungan dengan negeri luar. Setelah bertahun-tahun dalam pengaruh Belanda, akhirnya, pada tahun 1946, pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Syariful Alamshah, Serdang bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.1
Struktur pemerintahan
Raja pertama
Struktur tertinggi di Kerajaan Serdang dipimpin oleh seorang Raja. Pada masa itu, peranan seorang raja adalah:1
1.     Sebagai Kepala Pemerintahan Kerajaan Serdang.
2.     Sebagai Kepala Agama Islam (Khalifatullah fi’l ardh)
3.     Sebagai Kepala Adat Melayu.
Lembaga Orang Besar Berempat
Pada masa pemerintahan raja yang ke-2, Tuanku Sultan Ainan Johan Almashah (1767-1817), tersusunlah Lembaga Orang Besar Berempat di Serdang yang berpangkat Wazir Sultan, yaitu:1
1.     Raja Muda (gelar ini kemudian berubah menjadi Bendahara)
2.     Datok Maha Menteri (wilayahnya di Araskabu)
3.     Datok Paduka Raja (wilayahnya di Batangkuwis) keturunan Kejeruan Lumu
4.     Sri Maharaja (wilayahnya di Ramunia).
Pembentukan Lembaga Orang Besar Berempat di Serdang ini, disebabkan Raja Urung Sunggal kembali ke Deli, sementara Raja Urung Senembah dan Raja Urung Tg. Merawa tetap menjadi raja di wilayah taklukan Serdang.
Sultan Ainan Johan Almashah memperkokoh Lembaga Empat Orang Besar di atas berdasarkan fenomena alam dan hewan yang melambangkan kekuatan, seperti 4 penjuru mata angin (barat, timur, selatan, utara), kokohnya 4 kaki binatang dan azas Tungku Sejarangan (4 batu penyangga untuk masak makanan). Lembaga itu juga melambangkan sendi kekeluargaan pada masyarakat Melayu Sumatera Timur yaitu: suami, isteri, anak beru (menantu) dan Puang (mertua). Demikianlah, pembentukan lembaga di atas didasarkan pada akar budaya masyarakat Serdang sendiri. Selanjutnya, lembaga inilah yang berperan dalam upacara perkawinan maupun perhelatan besar.1
Jabatan lainnya
Selain para pejabat istana di atas, Sultan juga dibantu oleh Syahbandar (perdagangan) dan Temenggong (Kepala polisi dan keamanan). Sultan Serdang menjalankan hukum kepada rakyat berdasarkan Hukum Syariah Islam dan Hukum Adat seperti kata pepatah, “Adat bersendikan Hukum Syara, Hukum Syara’ bersendikan Kitabullah”.1
Penguasa/Sultan
Penguasa
§  1728-1782 Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Syah bin Tuanku Panglima Paderap Kejeruan Junjungan, Raja Serdang
§  1782-1822 Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Syah ibni al-Marhum Tuanku Umar Al-Marhum Kacapuri, Raja Serdang.
§  1822-1851 Sultan Thaf Sinar Basyar Syah ibni al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah Al-Marhum Besar, Sultan dan Yang di-Pertuan Besar Serdang
§  1851-1879 Sri Sultan Muhammad Bashar ud-din Saif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah Al-Marhum Kota Batu, Sultan dan Yang di-Pertuan Besar Serdang
§  1879-1946 Sri Sultan Tuanku Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Bashar un-din Al-Marhum Perbaungan, Sultan dan Yang di-Pertuan Besar Serdang
Kepala Rumah Tangga
§  1946-1960 Tuanku Rajih Anwar ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Tengku Putra Mahkota, Kepala Rumah Tangga Istana Serdang
§  1960-2001 Sri Sultan Tuanku Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah al-Haj ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Sultan dan Kepala Rumah Tangga Istana Serdang
§  2001 Sri Sultan Tuanku Lukman Sinar Bashar Shah II ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Sultan dan Kepala Rumah Tangga Istana Serdang.
Kehidupan Sosial-Budaya
Penulisan sejarah yang terlalu berorientasi politik, dengan titik fokus raja, keluarganya dan para pembesar istana menyebabkan sisi kehidupan sosial masyarakat awam jadi terlupakan. Oleh karena itu, bukanlah pekerjaan yang mudah untuk mendapatkan data mengenai kehidupan sosial-budaya pada suatu kerajaan secara lengkap. Berikut ini, sedikit gambaran mengenai kehidupan sosial budaya di Kerajaan Serdang pada periode pemerintahan Sultan Thaf Sinar Basyar Syah.1
Catatan utusan Kerajaan Inggris
Di masa pemerintahannya, Serdang menjadi aman tenteram dan makmur karena perdagangan yang ramai. Ketika utusan Kerajaan Inggris dari Penang, Johan Anderson, mengunjungi Serdang tahun 1823, ia mencatat:1
1.     Perdagangan antara Serdang dengan Pulau Pinang sangat ramai (terutama lada dan hasil hutan).
2.     Sultan Thaf Sinar Basyar Syah (juga bergelar Sultan Besar) memerintah dengan lemah lembut, suka memajukan ilmu pengetahuan dan mempunyai sendiri kapal dagang pribadi.
3.     Industri rakyat dimajukan dan banyak pedagang dari pantai barat Sumatera (orang Alas) yang melintasi pegunungan Bukit Barisan menjual dagangannya ke luar negeri melalui Serdang.
4.     Baginda sangat toleran dan suka bermusyawarah dengan negeri-negeri yang tunduk kepada Serdang, termasuk orang-orang Batak dari Pedalaman.
5.     Cukai di Serdang cukup moderat.
Pepatah Melayu
Semua hal di atas bisa terjadi karena Sultan berpegang teguh pada pepatah adat Melayu. Di antara pepatah dan adat tersebut adalah:1
§  secukap menjadi segantang, yang keras dibuat ladang, yang becek dilepaskan itik, air yang dalam diperlihara ikan;
§  genggam bara, biar sampai menjadi arang (sabar menderita mencapai kejayaan);
§  cencaru makan petang, bagai lebah menghimpun madu (meskipun lambat tetapi kerja keras maka pembangunan terlaksana);
§  hati Gajah sama dilapah, hati kuman sama dicecah (melaksanakan kerja pembangunan dengan berhasil baik bersama-sama).
Dalam perkembangannya, karena Sultan Thaf Sinar Basyar Syah ini amat berpegang teguh pada adat Melayu disertai sikap lemah lembut dan sopan, akhirnya banyak rakyat Batak di pedalaman yang masuk Melayu (Islam). Atas dasar jasa-jasanya, maka, ketika Sultan Thaf Sinar Basarshah mangkat pada tahun 1850, para Orang Besar dan rakyat Serdang memberikan penghormatan untuknya dengan gelar Marhom Besar.1
Sumber: 
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Serdang


»»  READMORE...